Rehabilitasi pada Penderita Stroke

PENDAHULUAN
Stroke merupakan suatu penyakit defisit neurologis yang bersifat mendadak. Penyebabnya adalah gangguan pada aliran pembuluh darah di otak. beberapa hal yang dapat menyebabkan terganggunya aliran darah di otak antara lain adalah terbentuknya sumbatan pada pembuluh darah ( stroke iskemik ) maupun pecahnya pembuluh darah (stroke perdarahan), yang sama – sama dapat menyebabkan aliran suplai darah ke otak terhenti dan muncul gejala kematian jaringan otak.
Ada dua kelompok faktor risiko terjadinya stroke, yaitu faktor yang tidak dapat diubah seperti umur, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga daan faktor yang dapat diubah antara lain hipertensi, dislipidemia, penyakit jantung, diabetes mellitus, merokok, dan lain-lain. Kemungkinan terjadinya stroke dapat dihindari atau diminimalkan dengan menangani faktor risiko yang dapat diubah. Stroke merupakan penyebab kematian terbanyak ketiga di dunia setelah penyakit jantung dan kanker, serta menimbulkan kecacatan tertinggi pada kelompok usia dewasa. Kecacatan yang ditimbulkan akibat stroke dapat memberikan stres sangat berat bagi pasien maupun keluarga dekatnya
Stroke dapat disebabkan oleh trombosis, emboli, perdarahan subarachnoid dan lain-lain yang menimbulkan hemiplegia. Pemberian latihan pada pasien stroke akibat trombosis dan emboli jika tidak ada komplikasi lain dapat dimulai 2–3 hari setelah serangan dan bilamana terjadi perdarahan subarachnoid dimulai setelah 2 minggu. Pada stroke karena trombosis atau emboli pada penderita infark miokard tanpa komplikasi, program latihan dapat dimulai setelah minggu ke tiga, tetapi jika segera menjadi stabil dan tidak didapatkan aritmia, latihan yang berhati-hati dapat dimulai pada hari ke sepuluh. Pada stroke yang berat lebih aman menunggu sampai tercapai complete stroke baru dimulal program latihan, walaupun hanya gerakan pasif yang diberikan. Jika proses penyebabnya dicurigai berasal dari arteri karotis ditunggu 18 s/d 24 jam dan jika penyebabnya dan sistem vertebrobasiler tunggu sampai 72 jam sebelum memastikan tidak ada perburukan lagi.
KLASIFIKASI STROKE

  • Berdasarkan Patologi Anatomi dan Penyebabnya stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu: stroke iskemik maupun stroke hemorragik.
    • Stroke iskemik yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti. 80% stroke adalah stroke Iskemik. Stroke iskemik ini dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : 
      • Stroke Trombotik: proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan.
      • Stroke Embolik: Tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah. 
      • Hipoperfusion Sistemik: Berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh karena adanya gangguan denyut jantung.
    • Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. Hampir 70% kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi. Stroke hemoragik ada 2 jenis, yaitu: 
      • Hemoragik Intraserebral: pendarahan yang terjadi didalam jaringan otak. 
      • Hemoragik Subaraknoid: pendarahan yang terjadi pada ruang subaraknoid (ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak).
  • Berdasarkan stadium /pertimbangan waktu 
    • TIA (Serangan iskemik sepintas ) Pada bentuk ini gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak akan menghilang dalam waktu 24 jam. 
    • stroke in evolution, merupakan Gejala neurologik yang makin lama makin berat. 
    • completed stroke, merupakan Gejala klinis yang telah menetap.
  • Berdasarkan sistem pembuluh darah 
    • sistem karotis 
    • sistem vertebrobasiler
Dibutuhkan evaluasi menyeluruh terhadap pasien stroke meliputi kondisi kesadaran, hemodinamik, jantung paru, fungsi kognitif, komunikasi dan menelan, sensori serta kemampuan gerak untuk membuat program rehabilitisi. Sebagai pertimbangan dalam menentukan program, goal (tujuan) rehabilitasi dan prognosis, riwayat penyakit penyerta, kondisi psikososial, CT scan kepala dan pemeriksaan penunjang lainnya turut diperlukan.
PROGRAM REHABILITASI

Rehabilitasi sebenarnya dimulai di rumah sakit sesegera mungkin setelah stroke. Pada pasien yang stabil, rehabilitasi dapat dimulai dalam waktu dua hari setelah stroke telah terjadi, dan harus dilanjutkan sebagai diperlukan setelah keluar dari rumah sakit. Lamanya rehabilitasi stroke tergantung pada tingkat keparahan dan komplikasi stroke. Sementara beberapa penderita stroke dapat cepat sembuh, sedangkan ada beberapa penderita stroke yang membutuhkan waktu jangka panjang untuk rehabilitasi stroke, mungkin berbulan-bulan atau bertahun-tahun, setelah mendapat serangan stroke.
Menurut WHO, tujuan Rehabilitasi penderita stroke adalah:
  • Memperbaiki fungsi motorik, wicara, kognitif dan fungsi lain yang terganggu.
  • Readaptasi sosial dan mental untuk memulihkan hubungan interpesonal dan aktivitas sosial.
  • Dapat melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Pemilihan jenis terapi yang diperlukan disesuaikan dengan kondisi pasien dan apa yang dibutuhkan supaya pasien dapat mandiri. Rehabilitasi tidak dapat menyembuhkan efek-efek yang ditimbulkan akibat serangan stroke, namun dapat membantu penderita untuk mengoptimalkan fungsi tubuhnya.
Tim rehabilitasi medis, yang terdiri dari dokter spesialis rehabilitasi medis, perawat, fisioterapis, terapis wicara, terapis okupasi, dokter spesialis gizi dan psikiater, akan melakukan pengkajian dan menentukan perencanaan terapi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pasien.
Terapi dimulai secara bertahap, yaitu berlatih mulai dari duduk, berdiri, dan berjalan sendiri. Pasien juga dilatih melakukan kegiatan sehari-hari seperti mandi, makan, buang air, berpakaian dan berdandan.
Beberapa latihan yang dapat diberikan kepada pasien stroke sebagai berikut:
1) PROGRAM LATIHAN DI TEMPAT TIDUR
  • Latihan di tempat tidur dimulai dengan pengaturan posisi baring, yaitu : Penderita diletakkan dalam posisi melawan pola spastisitas yang akan timbul.
  • Pola Spasitisitas Hemiplegia
    • Pada penderita hemiplegia tampak bahu tertarik ke belakang dan ke bawah, lengan endorotasi, siku fleksi, lengan bawah pronasi, pergelangan tangan fleksi. Panggul retraksi, paha endorotasi, pelvis, lutut dan pergelangan kaki ekstensi serta kaki plantar fleksi dan inversi.
  • Pola Antispastisitas
    • Bahu protraksi (beri ganjal di bawah bahu jika tidur terlentang
    • Lengan atas eksorotasi dan siku ekstensi.
    • Lengan bawah supinasi.
    • Pergelangan tangan dan jari-jari ekstensi dengan ibu jari abduksi.
    • Panggul protraksi (beri ganjal di bawah panggul jika tidur terlentang).
    • Paha agak endorotasi.
    • Panggul, lutut fleksi, pergelangan kaki dorsofleksi.
    • Leher sedikit ekstensi (merangsang timbulnya symetric tonic neck reflex) – mencegah timbulnya pola fleksi sinergis pada anggota gerak atas.
Posisi penderita dapat baring terlentang atau miring ke sisi yang sehat maupun sakit, dengan tetap mempertahankan pola antispastisitas tersebut. Posisi tersebut di atas harus dimulai sejak dini, walaupun nampak spastik. Perubahan posisi dilakukan dengan merotasi tubuh pasien secara pasif dan secara segmental yang dimulai pada bagian pundak kemudian pinggang, seterusnya panggul; atau sebaliknya dimulai dari panggul sampai kepala.
Apabila anggota gerak masih dalam keadaan layu atau lemah perlu diberi fasilitasi yang cukup dengan menggunakan metoda Proprioceptive Neuromuscular Facilitation (PNF); dan jika kesadaran pasien sudah baik, dapat dimulai latihan sebagai berikut:
  1. Gerakkan tangan ke atas dan ke bawah dalam posisi terlentang.
  2. Rotasi bahu ke sisi yang sehat dan ke sisi yang sakit. pelvis tidak boleh ikut. Gerakan memfasilitasi tiinbulnya reaksi penegakan tubuh serta penguluran otot latissimus dorsi yang berperanan besar dalam terbentuknya asimetri pada tubuh pasien jika tidak dinetralisir.
  3. Bridging adalah latihan mengangkat panggul dengan tujuan sebagai berikut:
    • Melawan posisi sinergis spastik tungkai, memberikan latihan menumpu berat bada pada tungkai sebagai persiapan latihan berdiri.
    • Memudahkan nursing care, misalnya penggunaan bed, serta mencegah timbulnya pressure sore. Bila kekuatan otot mulai ada, latihan diikuti dengan memindahkan bokong ke sisi kanan dan kiri.
       4) Rotasi pelvis ke sisi sakit dan sehat, mula-mula dibantu oleh fisioterapis selanjutnya penderita sendiri.
            Bila pasien sudah dapat melakukan dengan baik latihan tersebut, dapat ditambah dengan latihan
            menumpu berat badan dengan pemberian berat badan pada sisi sakit.
2) PROGRAM LATIHAN DUDUK
Pola latihan ini mengikuti perkembangan motorik bayi; untuk latihan duduk harus dilalui latihan rolling, yaitu terlentang, tengkurap dan duduk. Penderita menggeser ke tepi tempat tidur, bagian yang sakit di tepi, sisakan ruang secukupnya untuk perubahan posisi miring ke bagian yang sakit. Kemudian penderita miring ke sisi yang sakit (awasi posisi bahu dan lengan yang sakit, harus tetap pada posisi pola antispastik). Jatuhkan kedua tungkai bawah ke samping tempat tidur. Jika bagian yang sakit belum dapat digerakkan sendiri. perlu dibantu; kaki yang sehat tidak dibolehkan mengait kaki yang sakit dalam upaya menggerakkan tungkai yang sakit. Gerakan ke posisi duduk mula-mula dengan bantuan fisioterapis dengan menarik tangan sisi sehat sambil memfiksasi lutut penderita pada tepi tempat tidur.
Selanjutnya oleh penderita sendiri dengan bantuan tangan yang sehat menekan tempat tidur di sebelah sisi yang sakit. Latihan harus bertahap agar rangsangan- rangsangan proprioseptiftetap terjadi pada siku, bahu dan tangan yang sakit. Pada posisi duduk pasien diperintahkan melakukan latihan dengan mengambil sesuatu benda pada sisi yang sakit. Latihan keseimbangan duduk berupa : penderita duduk di tempat tidur, kemudian fisioterapis mendorong tubuh penderita ke arah depan, belakang, ke samping kiri dan kanan. Aktivitas saat duduk berupa: penderita mengangkat lengan ke atas dan ke bawah dan memutar bahu ke kiri dan ke kanan,juga bisa mengangkat benda-benda sesusai dengan kemampuannya.
3) PROGRAM LATIHAN BERDIRI DAN BERJALAN
Tahapan latihan berdiri dapat melalui jalur: lying – rolling – sitting – standing. Terkadang perlu dilewati jalur lain yang panjang, yakni lying, propping dengan badan disangga, mula- mula oleh kedua, kemudian oleh keempat anggota gerak.
Adapun latihannya ialah:
  • Latihan tengkurap
  • Latihan kneeling
  • Latihan keseimbangan
    • Jika program latihan tahapan berdiri melalui jalur I, yaitu: rolling – sitting standing, sebelum berdiri terlebih dahulu di- berikan latihan persiapan berupa latihan mencondongkan muka dan kepala tegak. 
  • Latihan berdiri dan duduk; komando yang diberikan ada-lah : condongkan badan ke depan . . . yaak . . . berdiri. Posisi lengan terapis harus dalam posisi mengontrol siku dan tangan fisioterapis mengontrol panggul sedangkan lutut fisioterapis mengontrol lutut penderita. Posisi alternatif lain yaitu kedua tangan pasien di atas bahu fisioterapis dan kedua tangan fisioterapis di atas skapula pasien dengan posisi lutut yang sama. Untuk mendudukkan pasien kembali, posisi tetap sama dan minta pasien mencondongkan badan ke depan kemudian duduk. 
  • Latihan berdiri; latihan ini penting sekali mendahului latihan posisi berdiri. Tangan tidak boleh bertumpu pada meja sewaktu berdiri, tetapi kedua tangan dalam posisi clasp hand lurus ke muka. Tempat duduk tidak perlu ditinggi-rendahkan. Apabila koordinasi dan keseimbangan sudah baik, dilakukan latihan setengah jongkok ke berdiri dengan posisi anggota gerak dan teknik yang sama; sebelum berdiri, badan dicondongkan ke depan duru, kepala tegak, sewaktu akan kembali duduk, badan kembali condong ke depan lagi, baru duduk.
4) PROGRAM LATIHAN KESEIMBANGAN DAN BERDIRI 
  • Latihan dengan walker atau di parallel bar : Jangan segera dilatih jalan dengan quadripod/tripod, sebab akan mengembangkan asimetri. 
  • Latihan dalam posisi berdiri: 
    • Penderita menggunakan walker: berdiri tegak, kedua kaki sejajar bahu, kedua lengan lurus, cegah retraksi panggul, fleksi atau hiperekstensi lutut, eksternal rotasi sendi panggul dan fleksi siku bagian yang sakit. Gerakkan tubuh ke depan dan ke be- lakang. 
    • Dimulai dengan posisi yang sama, fleksi–ekstensikan lutut dengan sendi panggul tetap ekstensi. Kemudian tungkai yang sakit di belakang, lakukan fleksi-ekstensi lutut dan sendi panggul ikut bergerak. 
  • Gerakan jalan di tempat 
    • Ikuti pola jalan yang benar, yaitu mulai dan tumit menginjak lantai, dilanjutkan kaki rata di lantai, gerak selanjutnya tidak dikerjakan bagi pasien yang masih mengalami kesulitan melangkah; ada baiknya menggunakan trolley. Perlu juga dilakukan latihan mengangkat tungkai ke samping tanpa tumit menginjak lantai. Sebaliknya latihan di muka cermin. 
  • Latihan berjaan 
    • Latihan berjalan belum bisa diberikan sebelum pasien siap. Pemberian tongkat dihindari, sebab meskipun membantu mem- percepat fase beijalan, tetapi akan menimbulkan asimetni serta berjalan yang salah, di samping itu merangsang timbulnya pola spastisitas kembali. Sekali terbentuk polajalan yang salah, sukar mengoreksinya. 
    • Pola siklus berjalan yang normal harus diikuti. Gerak volunter baru dapat dilatih setelah reaksi tegak dan reaksi keseimbangan terselesaikan. Sejak awal penderita diberitahu latihan jalan mengikuti pola jalan yang normal. Di samping itu postur abnormal tetap dikoreksi selama latihan. Jangan membantu penderita berjalan dari sebelah sisi yang sehat.
  • Latihan permulaan sebelum naik tangga.
    • Sebelum memulai latihan naik tangga, perlu latihan pendahuluan. Latihan dimulai dengan menaruh kaki yang sehat di atas balok. Kemudian kaki yang sakit diangkat diletakkan di sampingnya. Kontrol panggul dan lutut. Latihan harus dilakukan berulang-ulang. Jika sudah ada kemajuan, kemudian ganti kaki yang sakit yang lebih dulu naik, baru disusul yang sehat. Jika semuanya sudah menunjukkan kemajuan, baru latihan naik tangga
5) TERAPI WICARA
Terapi Wicara Adalah bagian dari Tim Rehabilitasi Medik yang berperan dalam:
  • Membantu pasien untuk berkomunikasi untuk membantu komunikasi misalnya dengan latihan pengucapan kata (artikulasi) atau komunikasi dengan alat bantu.
  • Membantu pasien dengan gangguan menelan (disfagia) dengan latihan / maneuver khusus untuk mempermudah proses menelan.
  • Terapi wicara menggunakan teknik yang disebut constraint-induced aphasia therapy atau CIAT yang menggabungkan pelatihan komunikasi verbal yang intens dengan permainan bahasa yang membangun kemampuan bahasa sederhana serta kompleks. Teknik ini mendorong pasien stroke untuk lebih banyak berbicara daripada menggunakan gerakan sebagai sarana utama komunikasinya.
Faktor apa yang mempengaruhi hasil rehabilitasi stroke

Karena pemulihan stroke bervariasi dari orang ke orang, sulit untuk memprediksi berapa lama kemampuan pasien untuk pulih dengan cepat. Namun, secara umum, rehabilitasi stroke sukses tergantung pada:
  1. Tingkat keparahan stroke Anda
  2. Motivasi dan hasrat keinginan pasien untuk normal kembali
  3. Keterampilan tim rehabilitasi stroke yang melibatkan dokter, perawat rehabilitasi, terapis fisik, terapis okupasi, pidato dan bahasa patolog, ahli gizi, Psikolog
  4. Kerjasama teman-teman dan keluarga - memiliki jaringan dukungan yang baik memiliki efek besar pada pemulihan pasien
  5. Waktu rehabilitasi  - semakin cepat pasien memulai, semakin baik.
Hasil apa saja yang diharapkan dalam proses rehabilitasi

Perawatan bersama dengan Tim Rehabilitasi sejak awal bertujuan sebagai berikut:
  • Pada fase awal (akut) terutama adalah pencegahan komplikasi yang ditimbulkan akibat tirah baring (bedrest ) lama, seperti :
    • Mencegah ulkus dekubitus (luka daerah yang punggung/pantat yang selalu mendapat tekanan saat tidur)
    • Mencegah penumpukan sputum (dahak) untuk mencegah infeksi saluran pernapasan
    • Mencegah kekakuan sendi
    • Mencegah atrofi otot (pengecilan massa otot)
    • Mencegah hipotensi ortostatik, osteoporosis dll.
  • Pada fase lanjut (rehabilitasi)
    • Meminimalkan gejala sisa (sequelae) dan kecacatan akibat stroke
    • Memaksimalkan kemandirian dalam perawatan diri dan aktivitas sehari-hari
    • Kembali ke pekerjaan (back to work) sehingga diharapkan dapat berperan aktif dalam kehidupan seperti sedia kala

Komentar

Postingan populer dari blog ini