Pages

Labels

Sabtu, 29 September 2012

Laporan Pendahuluan TBC


I.    Kasus               : Tuberkulosis paru
Masalah Utama               : Inefektif bersihan jalan nafas

II.   Proses terjadinya masalah :

Inefektif bersihan jalan napas dapat terjadi pada kasus Tuberkulosis paru karena pada kasus ini tubuh secara fisiologis akan meningkatkan produksi mukus sebagai pertahanan dalam mempertahankan kondisi paru-paru. Mukus (dahak) adalah penutup yang melindungi bagian dalam paru-paru dan jalan nafas. Mukus ber-guna untuk menangkap debu dan kotoran dalam udara yang kita hirup dan membantu mencegah iritasi paru. Bila ada infeksi atau iritasi lain tubuh akan lebih banyak menghasilkan mukus tebal untuk mencegah terjadinya infeksi paru. Penyakit Tuberkulosa dapat menyebabkan meningkatnya produksi mukus, bila pro-duksi bertambah banyak mukus (dahak) akan mengental dan susah untuk dikeluarkan melalui batuk. Dahak yang mengental ini akan menyumbat  saluran nafas dan pernafasan menjadi lebih susah (sesak nafas).
a.   Pengertian :
Penyakit infeksi kronis akut atau sub akut yang disebabkan oleh basilus tuberkulosis (Mycobacterium Tuberculosis), kebanyakan menyerang struktur alveolar paru. (Susan Martin Tucher, Standar Perawatan Pasien).
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobakterium tuberculosis yaitu bakteri tahan asam (Suryadi, SKP, Rita Yuliani, SKP )
b.   Etiologi
Mycobakterium tuberkulosa
c.   Manifestasi klinik
Tuberkulosis primer biasanya sukar diketahui secara klinis karena mulainya penyakit secara perlahan. Kadang tuberkulosis ditemukan pada penderita tanpa gejala atau keluhan. Tetapi dengan uji tuberkulin dapat ditemukan penyakit tersebut. Gambaran klinisnya : demam, malaise, anoreksia, berat badan menurun, kadang batuk (batuk tidak selalu ada, menurun sejalan dengan lamanya penyakit), nyeri dada, hemoptysis, anemia.
d.   Patofisiologi
Mycobakterium tuberculosis masuk kedalam tubuh manusia melalui udara yang terhisap ke dalam paru-paru menempel pada bronchiale atau alveolus dan  memperbanyak diri setiap 18 – 24 jam menyebabkan proliferasi sel epitel disekeliling basil dan membentuk dinding antara basil dengan organ yang terinfeksi (tuberkel). Basil menyebar melalui kelenjar getah bening menuju kelenjar regional dan menimbulkan reaksi eksudasi timbul lesi primer yang menyebabkan kerusakan jaringan atau membentuk perkejuan  di daerah paru yang meluas  dan merusak jaringan paru di sekitarnya (nekrosis). Jaringan nekrosis tersebut dikeluarkan oleh penderita pada saat batuk, apabila kerusakan yang bertambah berat pada jaringan paru dapat terjadi caverne dan apabila di dalam caverne tersebut terdapat banyak pembuluh darah yang pecah menyebabkan batuk darah
e.   Komplikasi
§  Meningitis
§  Spondilitis
§  Pleuritis
§  Bronchopneumoni
§  Atelektasis
f.   Pemeriksaan diagnostik
1.     Pemeriksaan fisik
2.     Riwayat penyakkit : riwayat kontak dgn individu yang terinfeksi penyakit
3.     Reaksi terhadap tes tuberkulin
4.     Radiologi : terdapat gambaran komplek primer dengan atau tanpa perkapuran, pembesaran kelenjar para tracheal, penyebaran milier, penyebaran bronchogen, atelektasis, pleuritis
5.     Kultur sputum
g.   Penatalaksanaan dan terapi
1.     Nutrisi yang adekuat
2.     OAT ( obat anti tuberkulosa )  :
a.    Rifampicin        : 10-15 mg / kg BB / hari
b.    Isoniasid          : 5 – 10 mg / kgBB / hari
c.    Pyrazinamid      : 20 – 25 mg / kgBB / hari
d.    Ethambutol      : 20 – 25 mg / kgBB / hari
3.     Combinasi obat anti tuberkulosa dalam satu tablet FDC ( fixed drug combination ), terdiri atas :
a.    FDC 4 ( Rifampicin, INH, Pirazynamid dan Etamhutol )
b.    FDC 3 ( Rifampicin, INH, dan Etamhutol )
c.    FDC 2 ( Rifampicin, INH )
4.     Pembedahan          : tergantung organ yang tekena


III.   Pohon masalah



Pohon masalah TBC

IV.   Diagnosa Keperawatan dan  Data yang perlu dikaji

1.   Inefektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi mukus pada saluran pernafasan
a.   Kesulitan bernafas
b.   Perubahan kedalaman dan kecepatan pernafasan, penggunaan otot pernafasan
c.   Bunyi nafas
d.   Batuk dengan atau tanpa peningkatan produksi sputum
2.   Risti ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan terapi berhubungan dengan kurang pengetahuan
a.     Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit, pengobatan dan pencegahan penyakit

V.   Rencana intervensi

1.   Inefektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi mukus  pada saluran pernafasan
a.   Kaji status bernafas
b.   Observasi tanda-tanda vital
c.   Kaji irama, kedalaman dan ekspansi pernafasan
d.   Lakukan auskultasi bunyi pernafasan
e.   Anjurkan untuk banyak minum air hangat
f.   Ajarkan tehnik postural drainage, nafas dalam dan batuk efektif
2.   Risti ketidakpatuhan terhadap penatalaksanaan terapi berhubungan 
dengan kurang pengetahuan 
a.   Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit, pengobatan dan pencegahan penyakit
b. Berikan informasi tentang penatalaksanaan di rumah, pengobatan dan cara pencegahan penyebaran penyakit

VI.   Daftar kepustakaan :

CAPERNITO LINDA JUALL, 2001, Asuhan Keperawatan, edisi 8, EGC,  Jakarta,
DOENGOES MARILLYN E, 1999,  Rencana Asuhan Keperawatan, edisi ke III, EGC, Jakarta
SURIADI. YULIANI, RITA. 2001, Asuhan Keperawatan Pada Anak, Sagung Seto, Jakarta
SUSAN MARTIN TUCHER, Standar Perawatan Pasien, 1998, EGC, Jakarta.


0 komentar:

Poskan Komentar